ekop07's blog

June 19th, 2010

Hormon tanaman dan ZPT

Posted by ekop07 in Academic

Berikut adalah perbedaan antara hormon tanaman dan zat pengatur tumbuh :

1. Fitohormon atau hormon tanaman ada-lah senyawa organik bukan nutrisi yang

aktif dalam jumlah kecil (< 1mM) yang disintesis pada bagian tertentu, pada

umumnya ditranslokasikan kebagian lain tanaman dimana senyawa tersebut,

menghasilkan suatu tanggapan secara biokimia, fisiologis dan morfologis.

2. Zat Pengatur Tumbuh adalah senyawa organik bukan nutrisi yang dalam konsentrasi

rendah (< 1 mM) mendorong, menghambat atau secara kualitatif

mengubah pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

3. Inhibitor adalah senyawa organik yang menghambat pertumbuhan secara umum

dan tidak ada selang konsentrasi yang dapat mendorong pertumbuhan.

Sinyal kimia interseluler untuk pertama kali ditemukan pada tumbuhan. Konsentrasi

yang sangat rendah dari senyawa kimia tertentu yang diproduksi oleh tanaman dapat

memacu atau menghambat pertumbuhan atau diferensiasi pada berbagai macam sel-sel

tumbuhan dan dapat mengendalikan perkembangan bagian-bagian yang berbeda pada

tumbuhan.

June 19th, 2010

SPEKTROFOTOMETRI

Posted by ekop07 in Academic

Prinsip Percobaan

Salah satu analisis untuk menentukan kadar suatu senyawa pada suatu sampel adalah dengan cara spektrofotometri. Spektrofotometri merupakan metode analisis yang didasarkan pada besarnya nilai absorbsi suatu zat terhadap radiasi sinar elektromagnetik. Prinsip kerja spektrofotometri adalah dengan menggunakan spektrofotometer yang pada umumnya terdiri dari unsur-unsur seperti sumber cahaya, monokromator, sel, fotosel, dan detektor. Sumber radiasi spektrofotometer dapat digunakan lampu deuterium untuk radiasi di daerah sinar ultraviolet sampai 350 nm, atau lampu filamen untuk sinar tampak sampai inframerah. Sinar yang dikeluarkan sumber radiasi merupakan sinar polikromatis, sehingga harus dibuat menjadi sinar monokromatis oleh monokromator. Radiasi yang melewati monokromator diteruskan ke zat yang akan diukur dan sebagian radiasinya akan diserap oleh zat tersebut. Zat yang  akan  diukur nilai  absorbannya diletakkan pada sel dengan wadah kuvet. Sinar yang diteruskan akan mencapai fotosel dan energi sinar diubah menjadi energi listrik (Khopkar 2003). Namun, nilai yang dihasilkan dari spektrofotometer bukanlah nilai absorban (A) melainkan  transmitan  (T). Oleh karena itu nilai  T  tersebut harus dikonversi ke dalam nilai A zatyang diukur. Konversi menggunakan rumus A= – log % T. Konversi ini dilakukan karena yang terukur adalah nilai transmitan (besarnya sinar radiasi yang melewati zat dan ditangkap detektor), sedangkan yang diinginkan adalah nilai absorban (besarnya sinar radiasi yang terserap oleh zat) dari zat yang diukur.

Penentuan nilai absorban pada percobaan kali ini adalah untuk mengetahui kadar asam amino pada sampel kentang. Penambahan ninhirin dan piridin sebagai pereaksinya, yang selanjutnya dilakukan pemanasan. Menurut Winarno (1997), asam amino merupakan unit pembangun protein yang dihubungkan melalui ikatan peptida pada setiap ujungnya. Pemanasan asam amino dengan ninhidrin akan memberikan kompleks berwarna ungu. Intensitas warna tersebut sebanding dengan konsentrasi asam amino bebas dalam pengukuran absorban pada panjang gelombang yang paling tepat. Asam amino lisin mempunyai rantai cabang yang dapat bermuatan positif maupun negatif, tergantung lingkungannya. Asam amino lisin juga mempunyai rantai cabang gugus basa.

Day dan Underwood (1986) menyatakan bahwa untuk mendeteksi asam amino dalam suatu larutan, maka sebelum larutan tersebut ditetesi piridin dan ninhidrin serta dipanaskan terlebih dahulu. Piridin berguna untuk menganalisis kadar H2O dalam suatu zat dan menggeser reaksi kearah kanan. Ninhidrin adalah suatu reagen untuk mendeteksi asam amino dan menetapkan konsentrasinya dalam larutan. Senyawa ini adalah hidrat dari triketon siklik dan apabila bereaksi dengan asam amino akan menghasilkan zat berwarna ungu. Panjang gelombang yang paling tepat untuk warna larutan tersebut adalah 625 nm.

Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan kali ini adalah untuk mengetahui spektrum serapan maksimum suatu suatu zat pada panjang gelombang yang tepat dan menentukan kandungan asam amino bebas pada kentang dengan cara spektrofotometri.

Penentuan nilai absorban asam amino lisin dari nilai transmitan (T) yang diperoleh menggunakan spektrofotometri pada panjang gelombang 625 nm (spektrum serapan maksimum), didapatkan hasil pada konsentrasi 10; 12; 14; 16; 18; 20; dan 22 ppm berurut-turut nilai absorbannya adalah 0,1739; 0,2161; 0,2248; 0,4023; 0,4486; 0,4976; dan 0,5719. Nilai absorban blanko (konsentrasi 0 ppm) sebesar 0,0035. Maka nilai absorban terkoreksi dari masing-masing konsentrasi antara 10-22 ppm tersebut, berturut-turut adalah 0,1704; 0,2126; 0,2213; 0,3988; 0,4451; 0,4941; dan 0,5684. Hasil tersebut kemudian dapat dibuat kurva hubungan antara konsentrasi asam amino lisin dengan nilai absorban terkoreksi (Gambar 2). Nilai persamaan linier (y=a+bx) dari kurva tersebut adalah y = -0,2072 + 0,0354x, dengan nilai sumbu y adalah absorban terkoreksi dan sumbu x adalah konsentrasi (ppm) asam amino lisin.

Analisis kadar asam amino dilakukan dengan mengujinya menggunakan spektrofotometri pada panjang gelombang 625 nm (spektrum serapan maksimum) juga. Ulangan 1 sampai ulangan 4 didapatkan nilai absorban berturut turut 0,3010; 0,2857; 0,3045; dan 0,2958. Sehingga dengan nilai absorban blanko 0,0035, maka nilai absorban terkoreksi dari keempat ulangan adalah 0,2975; 0,2822; 0,3010; dan 0,2923. Keempat data ulangan tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata pada nilai absorban terkoreksinya, nilainya berkisar antara 0,2822 – 0,3010. Dari data tersebut didapatkan nilai konsentrasi sampel berturut-turut dari ulangan 1 sampai 4 adalah 356,4265; 345,6214; 358,8983; dan 352,7542 ppm. Dapat dilihat bahwa konsentrasi sampel berkisar antara 345,6214 – 358,8983 ppm.

Alasan kenapa harus menggunakan panjang gelombang yang tepat dalam penentuan nilai absorban, adalah karena apabila pengujian dilakukan pada panjang gelombang yang tidak tepat berakibat tidak validnya data pengujian. Ketika terjadi perubahan konsentrasi yang besar, nilai absorbannya hanya sedikit berubah. Namun jika diuji dengan panjang gelombang yang tepat (spektrum serapan maksimum) maka apabila terjadi perubahan konsentrasi zat sedikit saja, maka akan terjadi perubahan nilai absorban yang cukup besar. Penentuan panjang gelombang yang tepat (spektrum serapan maksimum), salah satunya dilakukan dengan cara menguji nilai transmitan pada spektrofotometer antara panjang gelombang 400-700 nm dengan interval 5 nm.

Simpulan

Penentuan kadar asam amino dapat dilakukan dengan metode spektrofotometri pada panjang gelombang yang tepat (spektrum serapan maksimum) yaitu 625 nm. Nilai absorban asam amino lisin meningkat berbanding lurus dengan meningkatnya konsentrasi asam amino tersebut dalam larutan. Konsentrasi asam amino kentang dengan empat ulangan berkisar antara 345,6214 – 358,8983 ppm.

Daftar Pustaka

Day RA dan Underwood AL.1986. Analisis Kimia Kuantitatif edisi Kelima. Jakarta: Erlangga.

Khopkar SM. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI Press.

Winarno FG. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia.

June 19th, 2010

Kelatometri dalam Percobaannya

Posted by ekop07 in Academic

Standardisasi EDTA berfungsi karana EDTA dapat dipakai sebagai larutan baku baku primer dan dalam melarutkannya dapat mengandung ion-ion logam polivalen, sekalipun dalam jumlah yang sedikit. Standardisasi ini menggunakan larutan baku primer CaCO3 titrasi ini akan membentuk senyawa kompleks yang merupakan lingkaran yang terjadi dari ion logam dan atom-atom dalam EDTA, perubahan warna yang terjadi dari merah ke biru setelah titrasi rata-rata 9,8 ml, dengan [EDTA] rata-rata sebesar 0,0102, adanya penambahan indikator Erio T berguna sebagai tanda tercapai titik akhir titrasi.

Indikator yang digunakan harus mempunyai kriteria sebagai berikut: pertama, suatu indikator ion logam dapat digunakan pada pendeteksian visual dari titik-titik akhir yaitu reaksi warna harus sedemikian sehingga sebelum titik akhir, bila hampir semua ion logam telah berkompleks dengan EDTA, larutan akan berwarna kuat. Kedua, reaksi warna itu haruslah spesifik (khusus), atau sedikitnya selektif. Ketiga, kompleks-indikator logam itu harus memiliki kestabilan yang cukup, kalau tidak, karena disosiasi, tak akan diperoleh perubahan warna yang tajam. Namun, kompleks-indikator logam itu harus kurang stabil dibanding kompleks logam-EDTA untuk menjamin agar pada titik akhir, EDTA memindahkan ion-ion logam dari kompleks-indikator logam ke kompleks logam-EDTA harus tajam dan cepat. Kelima, kontras warna antara indikator bebas dan kompleks-indikator logam harus sedemikian sehingga mudah diamati. Indikator harus sangat peka terhadap ion logam (yaitu, terhadap pH) sehingga perubahan warna terjadi sedikit mungkin dengan titik ekuivalen.

Indikator yang digunakan pada titrasi kali ini adalah Erio T/EBT (Eriochrome black T). Titrasi ini sendiri dilakukan pada pH 10 dan konstan sepanjang titrasi. Keuntungan dari penggunaan  EBT sebagai indikator adalah EBT dapat menjadi indikator logam dan dapat  menjadi indiktor pH. Oleh karena itu, pH larutan perlu dijaga dengan menambahkan larutan buffer, ditambahkan 1-2,5 ml buffer pH 10, karena titrasi ini harus dilakukan pada pH 10 dan harus konstan sepanjang titrasi.

Kesadahan air adalah kandungan mineral-mineral tertentu di dalam air, umumnya ion kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) dalam bentuk garam karbonat. Air sadah atau air keras adalah air yang memiliki kadar mineral yang tinggi, sedangkan air lunak adalah air dengan kadar mineral yang rendah. Selain ion kalsium dan magnesium, penyebab kesadahan juga bisa merupakan ion logam lain maupun garam-garam bikarbonat dan sulfat. Cara yang lebih kompleks adalah melalui titrasi. Kesadahan air total dinyatakan dalam satuan ppm berat per volume (w/v) dari CaCO3 dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali, didapatkan rata-rata 37,6667 setelah rata-rata titrasi sebanyak 3,7667, hasil perhitungan tersebut tergolong kecil kesadahan yang dimiliki air keran karena masih dibawah 40, namun masuk ke kategori kesadahan sedang.

Penentuan kadar Ca2+ pada buah belimbing dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan dengan 3 kali pengeceran yaitu 10,1482 g, 10,0428 g, dan 10,0195 g, perubahan warna yang terjadi adalah dari merah ke biru setelah titrasi dengan EDTA dengan volume rata-rata yang terpakai adalah 1,4667 ml, dengan rata-rata kadar Ca2+ adalah 23,296 %.

Kelatometri atau kompleksometri yaitu titrasi berdasarkan pembentukan persenyawaan kompleks, Kesadahan air adalah kandungan mineral-mineral tertentu di dalam air. Indikator yang digunakan adalah EBT, dan penambahan larutan buffer pH 10 bertujuan untuk menjaga pH larutan, titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna dari merah anggur menjadi biru, sedangkan titran yang digunakan adalah EDTA (Ethylene Diamine Tetraacetic Acid).

Daftar Pustaka

Harjadi W. 1993. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta: PT Gramedia.

Khopkar. 2002. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI Press.

Hidayati Ana. 2007. Buku Petunjuk Praktikum Kimia Analitik Dasar I.
Semarang : Laboratorium Kimia Dasar FT IAIN Walisongo.