ekop07's blog

June 19th, 2010

SPEKTROFOTOMETRI

Posted by ekop07 in Academic

Prinsip Percobaan

Salah satu analisis untuk menentukan kadar suatu senyawa pada suatu sampel adalah dengan cara spektrofotometri. Spektrofotometri merupakan metode analisis yang didasarkan pada besarnya nilai absorbsi suatu zat terhadap radiasi sinar elektromagnetik. Prinsip kerja spektrofotometri adalah dengan menggunakan spektrofotometer yang pada umumnya terdiri dari unsur-unsur seperti sumber cahaya, monokromator, sel, fotosel, dan detektor. Sumber radiasi spektrofotometer dapat digunakan lampu deuterium untuk radiasi di daerah sinar ultraviolet sampai 350 nm, atau lampu filamen untuk sinar tampak sampai inframerah. Sinar yang dikeluarkan sumber radiasi merupakan sinar polikromatis, sehingga harus dibuat menjadi sinar monokromatis oleh monokromator. Radiasi yang melewati monokromator diteruskan ke zat yang akan diukur dan sebagian radiasinya akan diserap oleh zat tersebut. Zat yang  akan  diukur nilai  absorbannya diletakkan pada sel dengan wadah kuvet. Sinar yang diteruskan akan mencapai fotosel dan energi sinar diubah menjadi energi listrik (Khopkar 2003). Namun, nilai yang dihasilkan dari spektrofotometer bukanlah nilai absorban (A) melainkan  transmitan  (T). Oleh karena itu nilai  T  tersebut harus dikonversi ke dalam nilai A zatyang diukur. Konversi menggunakan rumus A= – log % T. Konversi ini dilakukan karena yang terukur adalah nilai transmitan (besarnya sinar radiasi yang melewati zat dan ditangkap detektor), sedangkan yang diinginkan adalah nilai absorban (besarnya sinar radiasi yang terserap oleh zat) dari zat yang diukur.

Penentuan nilai absorban pada percobaan kali ini adalah untuk mengetahui kadar asam amino pada sampel kentang. Penambahan ninhirin dan piridin sebagai pereaksinya, yang selanjutnya dilakukan pemanasan. Menurut Winarno (1997), asam amino merupakan unit pembangun protein yang dihubungkan melalui ikatan peptida pada setiap ujungnya. Pemanasan asam amino dengan ninhidrin akan memberikan kompleks berwarna ungu. Intensitas warna tersebut sebanding dengan konsentrasi asam amino bebas dalam pengukuran absorban pada panjang gelombang yang paling tepat. Asam amino lisin mempunyai rantai cabang yang dapat bermuatan positif maupun negatif, tergantung lingkungannya. Asam amino lisin juga mempunyai rantai cabang gugus basa.

Day dan Underwood (1986) menyatakan bahwa untuk mendeteksi asam amino dalam suatu larutan, maka sebelum larutan tersebut ditetesi piridin dan ninhidrin serta dipanaskan terlebih dahulu. Piridin berguna untuk menganalisis kadar H2O dalam suatu zat dan menggeser reaksi kearah kanan. Ninhidrin adalah suatu reagen untuk mendeteksi asam amino dan menetapkan konsentrasinya dalam larutan. Senyawa ini adalah hidrat dari triketon siklik dan apabila bereaksi dengan asam amino akan menghasilkan zat berwarna ungu. Panjang gelombang yang paling tepat untuk warna larutan tersebut adalah 625 nm.

Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan kali ini adalah untuk mengetahui spektrum serapan maksimum suatu suatu zat pada panjang gelombang yang tepat dan menentukan kandungan asam amino bebas pada kentang dengan cara spektrofotometri.

Penentuan nilai absorban asam amino lisin dari nilai transmitan (T) yang diperoleh menggunakan spektrofotometri pada panjang gelombang 625 nm (spektrum serapan maksimum), didapatkan hasil pada konsentrasi 10; 12; 14; 16; 18; 20; dan 22 ppm berurut-turut nilai absorbannya adalah 0,1739; 0,2161; 0,2248; 0,4023; 0,4486; 0,4976; dan 0,5719. Nilai absorban blanko (konsentrasi 0 ppm) sebesar 0,0035. Maka nilai absorban terkoreksi dari masing-masing konsentrasi antara 10-22 ppm tersebut, berturut-turut adalah 0,1704; 0,2126; 0,2213; 0,3988; 0,4451; 0,4941; dan 0,5684. Hasil tersebut kemudian dapat dibuat kurva hubungan antara konsentrasi asam amino lisin dengan nilai absorban terkoreksi (Gambar 2). Nilai persamaan linier (y=a+bx) dari kurva tersebut adalah y = -0,2072 + 0,0354x, dengan nilai sumbu y adalah absorban terkoreksi dan sumbu x adalah konsentrasi (ppm) asam amino lisin.

Analisis kadar asam amino dilakukan dengan mengujinya menggunakan spektrofotometri pada panjang gelombang 625 nm (spektrum serapan maksimum) juga. Ulangan 1 sampai ulangan 4 didapatkan nilai absorban berturut turut 0,3010; 0,2857; 0,3045; dan 0,2958. Sehingga dengan nilai absorban blanko 0,0035, maka nilai absorban terkoreksi dari keempat ulangan adalah 0,2975; 0,2822; 0,3010; dan 0,2923. Keempat data ulangan tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata pada nilai absorban terkoreksinya, nilainya berkisar antara 0,2822 – 0,3010. Dari data tersebut didapatkan nilai konsentrasi sampel berturut-turut dari ulangan 1 sampai 4 adalah 356,4265; 345,6214; 358,8983; dan 352,7542 ppm. Dapat dilihat bahwa konsentrasi sampel berkisar antara 345,6214 – 358,8983 ppm.

Alasan kenapa harus menggunakan panjang gelombang yang tepat dalam penentuan nilai absorban, adalah karena apabila pengujian dilakukan pada panjang gelombang yang tidak tepat berakibat tidak validnya data pengujian. Ketika terjadi perubahan konsentrasi yang besar, nilai absorbannya hanya sedikit berubah. Namun jika diuji dengan panjang gelombang yang tepat (spektrum serapan maksimum) maka apabila terjadi perubahan konsentrasi zat sedikit saja, maka akan terjadi perubahan nilai absorban yang cukup besar. Penentuan panjang gelombang yang tepat (spektrum serapan maksimum), salah satunya dilakukan dengan cara menguji nilai transmitan pada spektrofotometer antara panjang gelombang 400-700 nm dengan interval 5 nm.

Simpulan

Penentuan kadar asam amino dapat dilakukan dengan metode spektrofotometri pada panjang gelombang yang tepat (spektrum serapan maksimum) yaitu 625 nm. Nilai absorban asam amino lisin meningkat berbanding lurus dengan meningkatnya konsentrasi asam amino tersebut dalam larutan. Konsentrasi asam amino kentang dengan empat ulangan berkisar antara 345,6214 – 358,8983 ppm.

Daftar Pustaka

Day RA dan Underwood AL.1986. Analisis Kimia Kuantitatif edisi Kelima. Jakarta: Erlangga.

Khopkar SM. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI Press.

Winarno FG. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia.

Leave a reply

:mrgreen: :neutral: :twisted: :shock: :smile: :???: :cool: :evil: :grin: :oops: :razz: :roll: :wink: :cry: :eek: :lol: :mad: :sad: